Rabu, 01 Januari 2014

Jangan Terlena " Makna Sebuah Pemikiran "


Foto: Jangan Terlena " Makna Sebuah Pemikiran "

Tidak terasa, bulan demi bulan menjelang; tahun demi tahun pun berlalu. Kaum Muslim kembali memasuki bulan Muharram, menandai datangnya kembali tahun yang baru; kali ini memasuki Tahun Baru 1434 Hijrah. Tidak seperti ketika datang Tahun Baru Masehi yang disambut dengan penuh semarak oleh masyarakat, Tahun Baru Hijrah disikapi oleh kaum Muslim dengan ‘dingin-dingin’ saja.

Memang, Tahun Baru Hijrah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijrah dijadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi saw. sebetulnya lebih menggambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual. Peristiwa Hijrah Nabi saw. tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi saw.

 

Ketidakmampuan kita memahami sekaligus mewujudkan makna terpenting Hijrah ini dalam realitas kehidupan saat ini hanya akan menjadikan datangnya Tahun Baru Hijrah tidak memberikan makna apa-apa bagi kita, selain rutinitas pergantian tahun. Ini tentu tidak kita inginkan.

Sehingga bagaimana dengan perayaan tahun baru yang telah diikuti oleh banyak masyarakat didunia. Sehingga untuk mengeluarkan kerocek yang lebih dalam dilakukannya demi meriahnaya tahun baru seperti membeli terompet, kembang api hingga berpergian ketempat yang jauh seperti puncak dll. Justru haal seperti itu sudah salah kaprah, yang benar adalah perayaan tahun baru bukan disambut dengan seperti itu melainkan dengan menyadari diri bahwa pergantian tahun adalah bahwa berkuranglah kita hidup didunia ini. Dan gak salahnya berdoa itu lebih baik dibandingkan mengeluarkan haal yang tak penting.[] MZ
Tidak terasa, bulan demi bulan menjelang; tahun demi tahun pun berlalu. Kaum Muslim kembali memasuki bulan Muharram, menandai datangnya kembali tahun yang baru; kali ini memasuki Tahun Baru 1434 Hijrah. Tidak seperti ketika datang Tahun Baru Masehi yang disambut dengan penuh semarak oleh masyarakat, Tahun Baru Hijrah disikapi oleh kaum Muslim dengan ‘dingin-dingin’ saja.

Memang, Tahun Baru Hijrah tidak perlu disambut dengan kemeriahan pesta. Namun demikian, sangat penting jika Tahun Baru Hijrah dijadikan sebagai momentum untuk merenungkan kembali kondisi masyarakat kita saat ini. Tidak lain karena peristiwa Hijrah Nabi saw. sebetulnya lebih menggambarkan momentum perubahan masyarakat ketimbang perubahan secara individual. Peristiwa Hijrah Nabi saw. tidak lain merupakan peristiwa yang menandai perubahan masyarakat Jahiliah saat itu menjadi masyarakat Islam. Inilah sebetulnya makna terpenting dari Peristiwa Hijrah Nabi saw.



Ketidakmampuan kita memahami sekaligus mewujudkan makna terpenting Hijrah ini dalam realitas kehidupan saat ini hanya akan menjadikan datangnya Tahun Baru Hijrah tidak memberikan makna apa-apa bagi kita, selain rutinitas pergantian tahun. Ini tentu tidak kita inginkan.

Sehingga bagaimana dengan perayaan tahun baru yang telah diikuti oleh banyak masyarakat didunia. Sehingga untuk mengeluarkan kerocek yang lebih dalam dilakukannya demi meriahnaya tahun baru seperti membeli terompet, kembang api hingga berpergian ketempat yang jauh seperti puncak dll. Justru haal seperti itu sudah salah kaprah, yang benar adalah perayaan tahun baru bukan disambut dengan seperti itu melainkan dengan menyadari diri bahwa pergantian tahun adalah bahwa berkuranglah kita hidup didunia ini. Dan gak salahnya berdoa itu lebih baik dibandingkan mengeluarkan haal yang tak penting.[] MZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar