Sabtu, 01 Februari 2014

Jalan Berlubang Picu Padat Merayap


Foto: Jalan Berlubang Picu Padat Merayap

Jakarta, Jalan Aspal atau jalan raya merupakan salah satu arternatif untuk kenyamanan berkendara sehingga berpergian menjadi nyaman. Namun bagaimana apabila jalan yang ditempuh rusak atau berlubang, terlagi hujan mengguyur dengan rintihnya. Bukan hanya itu air tergenang menjadi suatu pengeliatan yang tak asing lagi. Sehingga kemacetan pun tak terhindarkan lagi bahkan bunyi klakson serta saut - sautan.

Jalanan berlubang di ibukota menelan korban jiwa pada Minggu (26/1), insiden ini merenggut nyawa pengguna motor, Huda Aprisalam (30). Saat kejadian, korban mencoba menghindari lubang di Jalan Gajah Mada, Jakpus dan langsung terhantam mikrolet yang melaju di belakangnya.

Miris, tapi patut menjadi perhatian pengendara motor. Pasalnya, saat pasca banjir seperti ini, banyak ditemukan jalanan yang berlubang. Dan salah satu unsur penting untuk menghadapi jalan berlubang adalah posisi berkendara.

Bukan hanya itu, kecelakan juga banyak yang merenggut nyawa yakni Tragedinya. Pasti kita kerap mendengar kasus kecelakaan lalu lintas jalan akibat kondisi jalan. Entah karena jalan berlubang atau bergelombang. Pastinya, kecelakaan menyakitkan bagi sang korban.
Data Korps Lalu Lintas Mabes Polri menyebutkan, pada 2011, faktor jalan menjadi kontributor kedua terbesar. Faktor manusia masih teratas. Tahun lalu, ada 127 ribuan kasus kecelakaan. Sebanyak 86 korban tewas setiap hari pada tahun itu. Miris.
Nah, faktor jalan menyumbang 28,17%. Tuh gede kan?
Ternyata, faktor jalan memiliki delapan aspek loh. Itu menurut data Korps Lantas Mabes Polri. Pertama, aspek tikungan tajam. Inilah aspek paling dominan dalam menyumbang kecelakaan dari faktor jalan. Aspek tikungan tajam berkontribusi 25,32% terhadap faktor jalan.
Kita tahu, tikungan tajam membahayakan jika tidak hati-hati. Terlebih, jika memaksakan diri mendahului di tikungan tanpa memperhatikan garis lurus menyambung dan kendaraan dari arah berlawanan.[]MZ
Jakarta, Jalan Aspal atau jalan raya merupakan salah satu arternatif untuk kenyamanan berkendara sehingga berpergian menjadi nyaman. Namun bagaimana apabila jalan yang ditempuh rusak atau berlubang, terlagi hujan mengguyur dengan rintihnya. Bukan hanya itu air tergenang menjadi suatu pengeliatan yang tak asing lagi. Sehingga kemacetan pun tak terhindarkan lagi bahkan bunyi klakson serta saut - sautan.

Jalanan berlubang di ibukota menelan korban jiwa pada Minggu (26/1), insiden ini merenggut nyawa pengguna motor, Huda Aprisalam (30). Saat kejadian, korban mencoba menghindari lubang di Jalan Gajah Mada, Jakpus dan langsung terhantam mikrolet yang melaju di belakangnya.

Miris, tapi patut menjadi perhatian pengendara motor. Pasalnya, saat pasca banjir seperti ini, banyak ditemukan jalanan yang berlubang. Dan salah satu unsur penting untuk menghadapi jalan berlubang adalah posisi berkendara.

Bukan hanya itu, kecelakan juga banyak yang merenggut nyawa yakni Tragedinya. Pasti kita kerap mendengar kasus kecelakaan lalu lintas jalan akibat kondisi jalan. Entah karena jalan berlubang atau bergelombang. Pastinya, kecelakaan menyakitkan bagi sang korban.
Data Korps Lalu Lintas Mabes Polri menyebutkan, pada 2011, faktor jalan menjadi kontributor kedua terbesar. Faktor manusia masih teratas. Tahun lalu, ada 127 ribuan kasus kecelakaan. Sebanyak 86 korban tewas setiap hari pada tahun itu. Miris.
Nah, faktor jalan menyumbang 28,17%. Tuh gede kan?
Ternyata, faktor jalan memiliki delapan aspek loh. Itu menurut data Korps Lantas Mabes Polri. Pertama, aspek tikungan tajam. Inilah aspek paling dominan dalam menyumbang kecelakaan dari faktor jalan. Aspek tikungan tajam berkontribusi 25,32% terhadap faktor jalan.
Kita tahu, tikungan tajam membahayakan jika tidak hati-hati. Terlebih, jika memaksakan diri mendahului di tikungan tanpa memperhatikan garis lurus menyambung dan kendaraan dari arah berlawanan.[]MZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar