Selasa, 25 Februari 2014

Motivasi Pengembangan Iptek dalam Islam




















Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) adalah salah satu kunci keunggulan suatu bangsa atas bangsa lainnya. Namun yang lebih vital dari itu adalah motivasi sehingga suatu bangsa menguasai iptek, karena selama motivasi ini ada, maka bangsa itu tak kan pernah kenal lelah untuk mempelajari dan mengembangkan iptek, serta menyiapkan segala infrastruktur yang diperlukannya. Dia tak cuma akan mengejar ketinggalannya, namun juga akan selalu bisa mempertahankan keunggulan yang telah diraihnya.


Suatu perbuatan bisa didorong oleh tiga hal:
- karena paksaan, ancaman, hukuman
- karena rangsangan keuntungan ekonomi
- karena keyakinan, bahwa pekerjaan itu benar dan harus dilakukan.

Paksaan atau rangsangan adalah motivator bermutu rendah . Dia mudah ditimbulkan, namun mudah pula hilang. Dia tidak bisa melahirkan suatu kesinambungan sendiri. Pembangunan iptek yang dilakukan karena paksaan suatu rejim tirani misalnya, akan segera berhenti bila paksaan itu dikendorkan. Akibatnya, untuk menghidupkan iptek, rakyat dan para ilmuwan harus terus menerus hidup dalam ketakutan.

Rangsangan ekonomi memiliki “mutu” sedikit di atas paksaan – namun sama sensitivnya. Iptek yang belum menghasilkan keuntungan ekonomi secara langsung akan terabaikan, padahal kenyataan, banyak iptek yang di masa awalnya, sama sekali “kering”.

Motivasi yang paling tinggi nilainya adalah keyakinan, bahwa pekerjaan itu benar dan harus dilakukan. Keyakinan itu memerlukan waktu untuk ditanamkan ke dada manusia, namun sekali tertanam ia akan “hidup” terus, selama bisa mewariskan ke generasi berikutnya. Manusia akan bekerja bebas tanpa paksaan, merdeka tanpa harus tunduk pada kendala ekonomi; mereka bekerja semata-mata karena yakin kebenarannya, dan untuk itu mereka akan selalu menemukan jalan, agar pekerjaannya bisa berhasil. Motivasi inilah yang dimiliki oleh para Nabi, yang juga diwarisi ummat Islam di masa lalu, sehingga bisa mengangkat bangsa yang “ummiy” (buta huruf) menjadi bangsa yang meninggalkan jejak yang luar biasa pada dunia iptek.

Yang pertama adalah membaca dan menulis
Ayat yang turun pertama-tama adalah ayat tentang perintah membaca!
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96:1-5)
Ayat kedua tentang menulis:
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (QS. 68:1)

Menggunakan akal, Memperhatikan alam ? Sains
Selanjutnya Allah memerintahkan menggunakan akal, menyebut kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang melihat alam, berpikir, memahaminya dan mempertebal keimanannya:
Dan tak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah murka kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. 10:100)
Katakanlah: “Samakah orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. 39:9)
Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah yang berilmu … (QS. 35:28)
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. 10:5)
Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. 10:101)

Menundukkan alam dengan Sunnatullah ? Teknologi
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (QS. 31:20)
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. 45:13)
Metode ala Sunnah
Rasulullah sendiri telah meletakkan fondasi infrastruktur pengembangan iptek pada kaum muslimin. Banyak contoh-contoh yang diberikan Nabi dan lalu diteruskan oleh para salafus shaleh, yang menjadikan ummat Islam dalam waktu singkat bisa mengungguli iptek yang pernah dikuasai oleh bangsa manapun sebelumnya, baik itu bangsa Persia, Romawi, Mesir, India maupun Cina.

1. Pembentukan penalaran ilmiah
Sejak mula, Islam tidak menerima pendapat tanpa argumentasi rasional, siapapun yang mengucapkan.
“Kemukakan argumentasi kalian, jika kalian memang benar “. (QS. 27:64)
Islam tidak mengakui sangkaan (zhan) untuk hal-hal yang perlu keyakinan penuh dan ilmu yang akurat.
“Mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan, sedang sesungguhnya sangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun untuk kebenaran”. (QS. 53:28)
Islam menolak subyektivitas emosi, sebab apapun kesimpulannya, ia berinteraksi pada hukum alam.
“Maka putuskanlah di antara manusia dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. 38:26)
Islam mengikis patuh buta (taklid), baik itu kepada nenek moyang, pemimpin, apalagi pada orang awam.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “Kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?. (QS. 2:170)
Dan Islam mementingkan pengamatan empiris terhadap langit dan bumi dan segala isinya.
“di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. 51:20-21)
2. Pemberantasan buta huruf
Pada peristiwa Badr, Rasulullah menawan 70 orang. Sebagian dari mereka menebus dirinya dengan mengajar baca-tulis sepuluh anak kecil muslim hingga bisa. Orang Madinah waktu itu umumnya buta huruf. Di antara “alumni PBH” ini adalah Zaid bin Tsabit, yang kemudian menjadi penulis wahyu.
3. Mempelajari bahasa asing
Rasulullah diutus untuk seluruh alam (QS 7:158), padahal ia seorang Arab dan Quran pun berbahasa Arab. Karena itu Rasulullah lalu memerintahkan para sahabat belajar bahasa-bahasa asing kaum yang akan dihubungi (Persia, Romawi, Syria dll) untuk menerjemahkan surat-surat beliau.

4. Pengumpulan data / Statistik
Khudhaifah bin Al-Yaman bercerta: Kami pernah bersama-sama Rasulullah, dan beliau bersabda, “Buatkan pendataan untukku siapa-siapa yang sudah masuk Islam”. (HR. Bukhari-Muslim).

5. Perencanaan
Dalam sejarah Nabi, tampak bahwa setiap keputusan beliau direncanakan secara matang, baik ketika akan menyampaikan wahyu ke khalayak, melakukan hijrah maupun ketika mengatur strategi perang. Setelah merencanakan sebaik-baiknya itulah, baru kita menyerahkan hasilnya kepada Allah (tawakkal).

6. Pengakuan metode eksperimental
Pada kasus pencangkokan kurma yang ternyata gagal, Rasulullah bertanya: “Apa yang terjadi?”. Mereka menjawab: “Baginda telah mengatakan begini dan begitu”. Rasulullah bersabda: “Kalian lebih tahu urusan teknik dunia kalian”. (HR Muslim).
Di hadits lain, Rasul bersabda: “Ucapanku dahulu hanyalah dugaanku. Jika berguna, lakukanlah. Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Dugaan bisa benar bisa salah. Tetapi apa yang kukatakan kepadamu dengan Allah berfirman, maka aku tak akan pernah berdusta terhadap Allah. (HR Ahmad)

7. Memegang pendapat pakar dan ilmuwan
… dan tidak ada yang dapat memberimu informasi seperti yang diberikan oleh pakarnya. (QS. 35:14)
Setiap hal ada ilmunya, setiap ilmu ada pakarnya. Dalam hal-hal teknis, Rasulullah selalu menggunakan bantuan para pakar, baik sebagai guide ketika hijrah, maupun ketika mengatur taktik perang. Guide Rasul ketika Hijrah adalah seorang musyrik.

8. Memetik segala yang bermanfaat
Rasulullah bersabda: “Ilmu itu bagai binatang sesat orang mukmin. Di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya” (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).
Atas dasar ini, maka ummat Islam tidak pernah merasa risi belajar ilmu-ilmu yang tidak terwarnai pandangan hidup pemiliknya, seperti matematika, fisika, kedokteran, ilmu militer hingga administrasi.

9. Memberantas tahayul dan khurafat
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah bersabda: “Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang tetapi keduanya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah … ” (HR Bukhari 2, 152)
Rasulullah bersabda: “Barang siapa mendatangi dukun paranormal dan menanyakan sesuatu, lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka salatnya tidak diterima selama 40 hari” (HR Muslim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar