Minggu, 21 Juni 2015

Makna Tarawih dan Tadarus Qur;an


Momen tarawih dan tadarus ramai-ramai pasti bikin kamu kangen banget dengan suasana ramadan. Bagaimana tidak? Tarawih jadi momen untuk menguji kamu seberapa sabarnya kamu melewati rakaat demi rakaat hingga mencapai 11 atau 23 rakaat. Begitu juga dengan tadarus bareng di masjid, momen yang bisa mengakrabkan kamu dengan teman-teman di sekitarmu.


Tapi buat anak-anak, tarawih jadi salah satu ajang untuk saling bercanda. Pernah kan, ketika temanmu sedang ingin tarawih tiba-tiba kamu mendorongnya. Balas-membalas pun mulai terjadi.
Jika manusia makan berlebih-lebihan sudah tentu akan membawa muzarat kepada kesehatan. Badan bisa menjadi gemuk, yang bisa mengakibatkan berbagai penyakit. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita.



Tadarus atau tadarusan biasanya berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak. Dan umumnya dilaksanakan di masjid atau mushalla di malam-malam bulan Ramadhan.
Kata tadarus berasal dari asal kata darasa yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjaditadarasa yatadarasu, makamaknanya bertambah menjadisaling belajar, atau mempelajari secara lebih mendalam. Tadarus dalam arti yang sebenarnya, yaitu mempelajari isi dan kandungan al-Quran, di masa nabi SAW adalah dengan cara mempelajari beberapa ayat, setelah mendalam dan mengerti, baru diteruskan lagi beberapa ayat.

Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan, maka tak heran bila Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan ini dibandingkan di bulan-bulan lain. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun langsung untuk memuraja’ah (mendengar dan menilai) bacaan Al-Qur’an beliau. Oleh karena itu, amat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Selain mendatangkan pahala yang berlipat ganda apabila dilakukan secara ikhlas, membaca Al-Qur’an pada saat berpuasa ternyata dapat pula mengurangi bau mulut.

Alquran Al-Karim adalah pedoman hidup umat manusia dan begitu banyak hikmah dari membaca Alquran. Pertama, mendapatkan pahala yang sangat banyak, di mana satu huruf diberi balasan dengan sepuluh kebajikan. Kedua, Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, mendapatkan ketenangan jiwa atau hati yang sangat luar biasa, di mana setiap ayat Alquran yang dibacanya akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi para pembacanya. Keempat, mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat. Kelima, akan terbebas dari aduan Rasulullah SAW pada hari Kiamat nanti, di mana ada beberapa manusia yang diadukan Rasulullah SAW pada hari Kiamat dihadapan Allah SWT.
Jadi, perbanyaklah membaca Alquran, luang waktu sisa-sisa kehidupan yang Allah berikan untuk memperdalam ajarannya. Jangan disia-siakan, karena Alquran akan mengantarkan kemudahan kita ketika menghadap Allah SWT.


Agar ibadah puasa yang kita jalankan, tidak sekedar “mendapatkan lapar haus dan dahaga”, maka amalan utama yang dapat dilakukan untuk merawat puasa adalah mengerjakan qiyamulail, yakni salat taraweh selama bulan ramadhan.  Tarawih merupakan shalat malam (qiyamul lail) di bulan Ramadhan. Tarawih berasal dari kata raahah yang berarti bersantai setelah empat rakaat.  Artinya shalat ini dapat dikerjakan tidak sekaligus dalam satu rangkaian, namun dapat disela-sela dengan kegiatan lain di luar shalat setelah menyelesaikan empat rakaat, empat rakaat.

Rasulullah SAW tercatat tiga kali melakukan shalat tarawih di masjid yang diikuti oleh para sahabat pada waktu lewat tengah malam. Khawatir shalat tarawih diwajibkan karena makin banyaknya sahabat yang turut berjamaah, pada malam ketiga Rasulullah SAW lalu menarik diri dari shalat tarawih berjamaah dan melakukannya sendiri di rumah. Disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian tidak melanjutkan pada malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi diwajibkan kepada ummat muslim. (HR al-Bukhari)
Pada masa kekhalifahannya, Umar bin Khathab memerintahkan shalat tarawih berjamaah dengan imam Ubay bin Ka’ab sebanyak dua puluh tiga rakaat dan bacaan sekitar 200 ayat, setelah sekian lama para sahabat shalat sendiri-sendiri. Kegiatan tersebut didasari oleh kemaslahatan bersama akan persatuan dan kesatuan kaum Muslim.

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, kegiatan shalat tarawih ditambah hingga 33 rakaat dengan alasan perbedaan kualitas ibadah kita dengan Rasulullah SAW. Namun, jumlah rakaat tarawih yang terakhir ini hanya masyhur pada zaman itu dan tidak popular hingga zaman kita saat ini. Perbedaan jumlah rakaat tarawih disebabkan oleh tidak adanya batasan jumlah rakaat saat Rasulullah SAW melakukannya dalam tiga malam itu. Imam As-Syuyuthi menukil pernyataan Imam Al Taj As-Subhi berkata, “Tidak adanya batasan rakaat karena tarawih adalah shalat sunah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar