Minggu, 05 Juli 2015

Sejarah PONPES AS-SALAM Arya Kemuning Barong Tongkok


Pada bulan Agustus 1991 Majelis Ulama Indonesia Propinsi Kalimantan Timur menugaskan Ust. ARIEF HERI SETYAWAN menjadi Da’i Pembangunan untuk daerah Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai (sekarang Kab.Kutai Barat) di pedalaman Ulu Mahakam dengan Surat Keputusan No.30 / MUI-KT / VII / 1991 / 1412 H tanggal 6 Muharrom 1412 H/18 Juli 1991. Pada saat itu mengawali tugasnya bertempat di asrama tua Angkatan Darat (dibuat sekitar tahun 50-an waktu peristiwa Dwi Kora/Ganyang Malaysia) dengan kondisi apa adanya yaitu dinding sudah tak ada yang utuh lagi, atap banyak yang bocor. Alhamdulillah, hal yang demikian malah memotivasi semangat dalam melaksanakan tugas da’wah.


Dengan keliling ke kampung-kampung door to door, menyampaikan tugas da’wah islam, setiap sore hari baru pulang ke asrama sambil membawa anak-anak yang mau dididik dan dibina tentang dinnul islam. Hal ini berlangsung kurang lebih satu tahun. Tak terduga ketika ditengah-tengah ramainya kondisi pengajian santri setiap sore hari, ada oknum Danramil Kec.Barong Tongkok yang berulah “mengultimatum untuk pindah” da’i Arief beserta santri, dari asramanya. Ultimatum ini diterima dan dilaksanakan oleh Ust. Arief, dengan maksud agar tidak terjadi konfrontasi secara terbuka dan melebar (sempat masuk Koran Meranti, Suara Kaltim, dan menjadi perhatian Korem Samarinda). Mengetahui peristiwa ini, beberapa masyarakat kampung yang menjadi binaan Ust. Arief menawarkan beberapa tanah waqof yang berbeda letak dan luasnya.
bangunanlama
Bangunan Awal Ponpes Assalam
Atas berkat, rohmat dan irodat Alloh SWT. Pondok Pesantren Assalam berdiri ditengah-tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas Non Muslim, tentunya dengan mendapat dukungan masyarakat lingkungan sekitar. Dan inilah awal perintisan yang monumental. Terletak 5 km dari jalan raya Kampung Barong Tongkok, lokasi tanah jatah trans Arya Kemuning tahun 1965 yang sebagian sudah ditinggalkan oleh penduduknya, belum pernah diolah, kondisi masih asli berupa rawa-rawa. Dengan bergotong royong, pemberisihan hutan dan lahan secara manual. Dalam waktu satu minggu bangunan sederhana sudah berdiri, dengan kondisi atap daun nipah (jika ditiup angin, kotoran dan air hujan masuk), papan slebetan (papan sisa yang tak terpakai oleh penjual kayu), tiyang dan pondasi berupa kayu bulatan, siap jadi asrama anak-anak (waktu itu baru 4 santri & 2 guru) dengan ukuran 8 X 8 m2. Keadaan awal seperti ini berlangsung sekitar 1,5 tahun, hingga hari demi hari, waktu demi waktu terus berjalan, sesuai dengan hukum alam yang selalu menuntut perubahan, hingga keadaan SDM dan SDA-nya seperti yang ada saat sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar