Minggu, 27 April 2014

7 Kesalahan yang Harusnya Tidak Dilakukan Di Usia 20 Tahunan


Foto: 7 Kesalahan yang Harusnya Tidak Dilakukan Di Usia 20 Tahunan

Usia 20 Tahunan adalah usia transisi paling penting dalam hidup kita. Perpindahan gejolak dari era sekolahan ke era karir, menuntut  kita untuk cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Keputusan yang kita ambil saat ini – diusia 20 tahunan – tidak hanya berpengaruh untuk jangka panjang saja, tapi juga untuk masa depan kita jauh kedepan.
Apakah anda ingin membuat usia 20 tahunan anda menjadi usia monumental untuk membuat sebuah perubahan dalam hidup anda? Ataukah anda ingin bersenang senang dan membiarkannya berlalu begitu saja? Apapun pilihannya, semua tergantung anda.
Tapi satu yang pasti, usia 20 tahunan adalah usia yang sangat krusial, setiap rencana yang anda tulis, setiap keputusan yang anda buat dan setiap langkah yang anda pilih, akan berpengaruh jauh ke masa depan anda.
Berikut ini hal-hal yang seharusnya tidak anda lakukan ketika berusia 20 Tahunan.
1.    Bekerja Hanya untuk Uang, Bukan Membangun Impian
Jangan pernah mencari kenyamanan anda ketika masih muda. Masa muda harusnya anda gunakan untuk mencari tantangan sebanyak mungkin, membangun road map menuju cita cita yang anda impikan.
Terkadang pekerjaan dengan tawaran gaji yang cukup besar menghampiri, tapi permasalahannya adalah apakah anda benar benar menikmati pekerjaan yang akan anda geluti itu?
Sebagai contoh jika anda seorang sarjana seni, apakah anda akan menerima pekerjaan sebagai seorang akuntan dengan gaji yang besar? Padahal jelas-jelas bahwa dunia akuntansi bukanlah dunia anda.
Ok, mungkin di hari ini pekerjaan sebagai seorang seniman masih tidak menghasilkan apa-apa, dan pekerjaan sebagai akuntan dapat langsung mendatangkan pendapatan bulanan, tapi apakah anda yang seorang seniman mampu membohongi diri selamanya dengan bekerja sebagai seorang akuntan?
Jika John Lennon memutuskan untuk bekerja di pabrik daripada terus-menerus bermain musik tanpa di bayar di awal karirnya, akankah The Beatles ada saat ini?
Kembali lagi, semua ini masalah proses. Nikmatilah prosesnya.
2.    Tergesa-Gesa Dalam Jatuh Cinta
Mungkin bagi anda yang baru saja lulus dari dunia kampus, pasti mulai berinisiatif bahwa inilah saatnya mencari tambatan hati yang tepat untuk menjalin rumah tangga bersama. Toh orang tua anda pun juga mendukung langkah anda ini. Apalagi jika undangan sweet seven teen telah lama berganti menjadi undangan pernikahan dari beberapa kolega dekat kita.
Permasalahannya apakah anda akan langsung mengumbar cinta anda begitu bebas dari dunia perkuliahan dan mulai meniti jenjang karir?
Alih-alih fokus mengejar tambatan hati yang tepat, lebih baik kita fokus untuk memperbaiki kualitas diri.
Percayalah, lelaki yang baik akan selalu diperuntukkan untuk wanita yang baik pula.
3.    Tetap Kekanak-Kanakan
Diusia peralihan awal 20 tahunan, sering kali kita masih terlihat “kekanakan” dihadapan rekan kerja kita yang lebih tua. Kita masih sering becanda tidak pada tepatnya hingga masih mengedepankan ego daripada professionalitas.
Being child like is good, seperti halnya anak kecil yang selalu ingin belajar banyak hal dan kreatif. But being childish? NO! Bukan sebuah kebanggan lagi di usia anda jika apa-apa masih minta sama orang tua.
Real man use three pedals??? NO!
Real man pakai mobil yang dia beli dengan keringatnya sendiri.
4.    Family  Comes Second
Kita tahu bahwa di usia 20 tahunan adalah usia dimana kita sedang semangat-semangatnya mengejar karir kita. Tapi ingat, jangan pernah lupakan bahwa dibalik kesuksesan anda selalu ada keluarga yang mendukung. Jangan pernah menomor duakan mereka. Anggaplah kehidupan keluarga anda saat inilah adalah sebagai ajang latihan sebelum anda membangun rumah tangga anda dikemudian hari.
Satu lagi yang ingin saya share di poin ini. Anda tahu apa beda The Boy dengan The Man ?
“The Boy comes home cause he need his mommy for giving him some money. The Man comes home cause he knew that he cares of his mommy.”
5.    Tetap di Pekerjaan yang Tidak Mengajarkanmu Apa-apa
Pernah membaca cerita tentang persahabatan antara Ayam dan Elang ? Pekerjaan yang terasa nyaman dan tanpa tuntutan tidak akan membuat anda belajar apa-apa. Menjebak anda dalam sebuah kenyamanan semu yang sepertinya enak, padahal lambat laun kreativitas anda akan tergerus karena tidak terbiasa dengan berbagai macam tantangan yang baru. Hal ini mungkin akan membuat senang anda di hari ini, tapi di kemudian hari ketika kreativitas anda sudah tidak terlatih lagi? Tidak ada salahnya pergi mencari pekerjaan baru yang akan mengajarkan anda banyak hal. Sebelum keadaan membuat anda terlalu nyaman tanpa belajar apa-apa.
6.    Ikut-ikutan Trend
Anda boleh meyadari tren apa saja yang berkembang hari ini, tapi jangan pernah terlalu fokus untuk mengikuti suatu tren tersendiri. Jika anda anda menghabiskan sebagian besar waktu anda hanya untuk mengikuti tren tertentu saja, kapan anda akan fokus untuk menciptakan tren anda sendiri?
Ingat! Mereka yang sukseslah yang menciptakan tren itu, bukan para pengikutnya.
7.    Selesai Belajar
Kita tahu, kita sudah muak dengan program 12 tahun wajib belajar + 4 tahun kuliah (itupun kalau tidak ngaret). Sudah saatnya kita menutup buku pelajaran dan fokus bekerja untuk mencari uang. Tapi apakah itu benar?
Mereka yang sukses tidak pernah berhenti belajar dan belajar tidak harus di bangku kelas. Dunia ini penuh permasalahan yang sangat menarik untuk dipelajari jika kita mampu memahaminya.
Ingat, wajib belajar bukan hanya 12 tahun + 4 tahun kuliah. Wajib belajar adalah seumur hidup!
Manfaatkan sebaik mungkin usia 20 Tahunan anda, karena apapun keputusan yang anda ambil hari ini, akan berdampak jauh ke masa depan anda,
 
“Age is just number, Young is forever and Mature is character” – Self Quote
Usia 20 Tahunan adalah usia transisi paling penting dalam hidup kita. Perpindahan gejolak dari era sekolahan ke era karir, menuntut kita untuk cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Keputusan yang kita ambil saat ini – diusia 20 tahunan – tidak hanya berpengaruh untuk jangka panjang saja, tapi juga untuk masa depan kita jauh kedepan.

Sabtu, 26 April 2014

Pola Pikiran

 

Penalaran

Penalaran adalah suatu proses berfikir yang menghubungkan fakta-fakta atau avidensi menuju kepada suatu kesimpulan. Penalaran dapat juga berarti proses berfikir yang dilakukan dengan satu cara untuk menarik kesimpulan. Selain itu ada juga yang mengartikan penalaran sebagai proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.

Kamis, 24 April 2014

Apa Digital Citizenship itu?



Konsep Digital Citizenship muncul seiring dengan semakin dahsyatnya perkembangan teknologi informasi dan internet yang ditopang dengan kehadiran berbagai situs jejaring, baik dalam bentuk macroblog maupun microblog. Saat ini, ratusan juta orang dari berbagai belahan dunia telah memanfaatkan kehadiran situs jejaring sebagai ajang untuk saling interaksi antara satu individu dengan individu lainnya secara digital. Mereka bergabung dan membentuk komunitas-komunitas tertentu untuk saling berbagi informasi dan memanfaatkan berbagai konten yang didistribusikan, baik  dalam bentuk video, e-book, gambar, dan lain-lain.

Rabu, 23 April 2014

Apa Itu Ta'aruf ?


Secara bahasa ta’aruf bisa bermakna ‘berkenalan’ atau ‘saling mengenal’. Asalnya berasal dari akar katata’aarafa. Seperti ini sudah ada dalam Al-Qur’an. Simak saja firman Allah (yang artinya),
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (ta’arofu) …” (QS. Al Hujurat: 13).

Minggu, 20 April 2014

Menulis Cerita Pendek











Cerita pendek atau lebih sering disingkat dengan cerpen adalah salah satu bentuk karya sastra prosa. Sebagai karya sastra, cerpen bersifat fiktif-imajinatif., sehingga disebut pula karangan fiksi. Meskipun bersifat fiktif-imajinatif, tak jarang persoalan yang diangkat dalam cerpen bersumber dari kenyataan (fakta) sehari-hari. Namun demikian, kenyataan (fakta) tersebut diolah secara imajinatif oleh pengarang sehingga menjadi sebuah karya fiksi. 


Tips & Trik Menulis Essai


Foto: Tips & Trik Menulis Essai

Setelah merenung beberapa bulan, kiranya perlu juga  membaginya tips dan trik ini sebagai sarana pembelajaran siswa. (Memang semua demi siswa, di pundak merekalah masa depan bangsa ini). Sebagaimana telah saya jelaskan pada para siswa peserta ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), tips dan trik-nya secara singkat sebagai berikut :
1.      Memahami Hakikat Esai dan Teknik Penulisannya
2.      Menulis yang unik dan menarik
3.      Prinsip penulisan jurnalistik
4.      Pertimbangan kebahasaam

Hakikat Esai
Esai adalah karangan berbentuk prosa yang membahas suatu masalah secara sekilas dan bersifat subjektif. Karena itu, karangan esai relatif pendek hanya beberapa halaman saja (3-10 halaman mungkin lebih sedikit) tidak seperti menulis buku.
Adapun esai bersifat subjektif artinya harus berdasarkan opini dari sudut pandang penulisnya, bukan menjiplak ide-ide orang lain. Meskipun demikian tidak berarti haram  menuliskan hal-hal ilmiah. Justru dalam menuliskan proposisi atau pernyataan-pernyataan subjektifnya perlu didukung oleh argumen-argumen yang akurat. Fakta dan data yang disajikan harus akurat. Kalau perlu seluruh referensi kutipannya ditulis. Inilah yang akan meningkatkan bobot esai. Tanpa dukungan fakta dan data yang akurat maka esai itu hanyalah common sense saja.
Catatan penting lainnya, esai bersifat menggurui dan argumentatif. Maksudnya penulis harus dalam posisi ‘merasa’ paling tahu kemudian menyampaikan opini-opininya tentang topik tersebut. Opini-opini tersebut kemudian disertai argumen-argumen dan evidensi yaitu data dan fakta yang akurat dan relevan.
Format Penulisan Esai
Secara umum format penulisan esai sebagai berikut :
a.     Pengantar/Pendahuluan
Sebelum masuk ke dalam pemaparan esai perlu diawali dengan pepatah, cerita lucu, syair lagu, kutipan ayat, pendapat tokoh-tokoh penting, dan sejenisnya. Tujuannya agar pembaca tertarik dan terkesan. Namun demikian, hal-hal yang dituliskan harus relevan dengan topik yang dibahas.
b.    Isi
Pada bagian ini penulis perlu menyampaikan proposisi-proposisinya tentang topik yang dibahas. Bentuknya dapat berupa opini-opini namun harus argumentatif. Data dan fakta harus disampaikan untuk memperkuat opininya. Penulis dapat menceritakan pengalamannya yang unik dan relevan, menyampaikan anekdot, mengutip pendapat para pakar, memberikan contoh, memabandingkan sesuatu, atau juga mempertentangkan sesuatu.
Dalam hal ini penulis dapat dengan leluasa menampilkan gaya penulisannya. Bila dia humoris, maka tulisannya kaya akan humor maupun anekdot. Bila dia satiris, akan menuliskan ungkapan-ungkapan tajam, getir, menohok, bahkan sarkastis.
c.     Penutup
Secara umum esai ditutup dengan simpulan dan saran atau paling tidak menegaskan kembali apa yang telah disampaikannya. Namun demikian tidak sedikit esai yang ditutup dengan meninggalkan tanda tanya besar berupa ungkapan problematis yang perlu mendapat perhatian banyak pihak.
            Menulis yang Unik dan Menarik
            Suatu saat di Hotel Garden Pallace Surabaya, George Junus Aditjondro (penulis beberapa buku terkenal yang mengguncang pemerintah mulai jaman Megawati hingga SBY) menyampaikan ceramahnya. Yang paling saya ingat adalah cara menulis dengan ‘otak kiri’ (dalam hal ini istilah ‘otak kiri’ tidak ada kaitanya dengan “Quantum Learning”-nya Bobby de Potter).
Yang saya pahami, andaikan semua orang berpikiran menuju ke arah barat, maka kita jangan ikut ke arah barat. Mengapa? Mungkin kita hanya jadi epigon, pengikut, bahkan pengekor. Justru kita harus ke timur, yaitu melawan arus atau kalau perlu mendekonstruksi semua pemikiran yang berbeda. Benar dan salah tidak penting, yang penting argumennya akurat dan ‘ngeyel’ .
Karena itu yang paling utama adalah membuat tulisan yang berbeda alias unik dan menarik. Karena itu menjadi berbeda akan tampak jelas dilihat orang banyak. Apalagi bisa mengemasnya menjadi sensasi maka akan cepat ‘ngetop’.
            Prinsip Penulisan Jurnalistik
Kita perlu menerapkan prinsip penulisan jurnalistik ‘piramida terbalik’ dalam esai kita. Artinya, ide pokok esai perlu disampaikan bagian awal (lead). Penyampaiannya sedemikian rupa sehingga sangat menarik, menimbulkan tanpa tanya, marah, gerah, ‘gregetan’, dan sejenisnya sehingga pembaca akan penasaran untuk membaca ide-ide berikutnya.
Justru menurut saya, di bagian inilah yang penting dan paling sulit dalam membuat esai juara. Perlu perenungan dan pertimbangan-pertimbangan matang, bila perlu kontemplasi dalam menemukan ide dan merumuskannya.
           
Pertimbangan Kebahasaan
Karena menulis esai adalah menuliskan ide-ide melalui bahasa, maka sistem penulisannya juga menjadi pertimbangan penting dalam penilaiannya. Karena itu perlu diperhatikan penulisan ejaan, kata, kalimat, dan istilah-istilah, bahkan komposisinya. Karena itu dalam proses ‘editing’ perlu berhati-hati. Jangan sampai ada kesalahan.
Setelah merenung beberapa bulan, kiranya perlu juga membaginya tips dan trik ini sebagai sarana pembelajaran siswa. (Memang semua demi siswa, di pundak merekalah masa depan bangsa ini). Sebagaimana telah saya jelaskan pada para siswa peserta ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), tips dan trik-nya secara singkat sebagai berikut :
1. Memahami Hakikat Esai dan Teknik Penulisannya
2. Menulis yang unik dan menarik
3. Prinsip penulisan jurnalistik
4. Pertimbangan kebahasaam

KALIMAT AMBIGU (BERMAKNA GANDA)

Foto: KALIMAT AMBIGU (BERMAKNA GANDA)

Kalimat Ambigu adalah kalimat yang memiliki makna lebih dari satu atau bermakna ganda. Hal ini dikarenakan struktur kalimatnya maupun  penggunaan katanya yang memiliki makna ganda dalam pengartiannya.Ambigu berasal dari kata 'ambigous' yang berarti bermakna lebih satu. Makna ambigu dapat terjadi pada frase, klausa, atau kalimat. Perhatikan kalimat berikut ini : 
Orang mati dilompati kucing hidup.
Kalimat tersebut dapat diartikan 3 makna kalimat, yaitu :
Makna 1 : Orang yang mati kemudian dilompati kucing yang hidup.
                 (Dalam hal ini orangnya tetap mati, dan kucingnya memang hidup)
Makna 2 : Orang yang mati dilompati kucing kemudian orang matinya 
                 menjadi hidup.
Makna 3 : Orang hidup menjadi mati karena dilompati kucing yang hidup.

Untuk memecahkan problematika kalimat ini, dapat dilakukan dengan cara memberikan tanda baca yang tepat atau kata-kata tambahan yang memang diperlukan, yaitu :
Makna 1 : Orang-mati dilompati kucing-hidup.
Makna 2 : Orang-mati dilompati kucing, hidup.
Makna 3 : Orang,mati, dilompati kucing-hidup.

Contoh lainnya :
(1) Teman Aminah yang cantik sedang sakit.
      Maknanya : yang cantik bisa Aminah atau temannya.
(2) Isteri gubernur yang galak itu sedang naik mobil.
      Maknanya : yang galak bisa gubernur atau isterinya.
(3) Pengusaha baru membangun pabrik minuman keras di luar kota.
      Maknanya : pengusaha yang baru atau baru saja membangun.
(4) Toni dan Selvy sedang pergi ke Mal Delta. Ia tidak mengajak adiknya.
      Maknanya : Ia bisa merujuk pada Toni atau Selvy.

Kalimat-kalimat ambigu tersebut dapat diperbaiki menjadi :
(1a) Teman-Aminah yang cantik sedang sakit.
       (yang cantik teman Aminah)
(1b) Teman dari Aminah yang cantik sedang sakit.
       (yang cantik Aminah)
(2a) Isteri-gubernur yang galak itu sedang naik mobil.
       (yang galak isteri gubernur)
(2b) Isteri dari gubernur yang galak itu sedang naik mobil.
       (yang galak gubernur)
(3a) Pengusaha yang baru membangun pabrik minuman keras di luar kota.
        (yang baru adalah pengusaha)
(3b) Pengusaha baru saja membangun pabrik minuman keras di luar kota.   
        (yang baru adalah membangun pabrik) 
(4a) Toni dan Selvy sedang pergi ke Mal Delta. Toni tidak mengajak adiknya.
        Maknanya sudah jelas, yang mengajak adiknya adalah Toni
Perhatikan pula contoh berikut ^_^
Perhatikan struktur kalimat yang bermakna ambigu berikut ini.
Istri pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya.
Saya telah memiliki buku sejarah demokrasi yang baru.
Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Kalimat-kalimat di atas memiliki makna ambigu (ganda) sehingga dapat membingungkan orang yang membacanya. 
Pada kalimat 1, siapakah yang gemuk, pegawai atau isteri pegawai? Kalimat itu memang mengandung dua makna: 
pertama, yang gemuk adalah pegawai; atau
kedua. yang gemuk adalah isteri pegawai.
Pada kalimat 2, apanya yang baru, bukunya, sejarahnya, atau demokrasinya? Kalimat itu bisa bermakna ambigu: 
pertama, bukunya yang baru;
kedua, sejarahnya yang baru; dan
ketiga, demokrasinya yang baru.
Pada kalimat 3, juga terdapat makna ambigu: 
pertama. ada dua kali sumbangan yang diberikan oleh sekolah itu; atau
kedua. ada dua sekolah yang menyumbang.
Untuk menghindari ambiguitas makna, kalimat 1 dapat dirumuskan sbb.:
Jika yang gemuk adalah isteri pegawai, maka dapat ditulis sbb.: Istri-pegawai yang gemuk itu berasal dari Surabaya. Penggunaan tanda hubung (-) dapat memperjelas bahwa kedua kata itu (isteri dan pegawai) merupakan satu kesatuan, sehingga kalimat itu bermakna yang gemuk adalah istri pegawai. Atau dapat pula dirumuskan sbb.: Pegawai yang isterinya gemuk itu berasal dari Surabaya.
Jika yang gemuk adalah pegawainya, maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Pegawai yang gemuk itu istrinya dari Surabaya.
Untuk kalimat 2:
Jika yang baru adalah bukunya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku-sejarah-demokrasi yang baru, atau Saya telah memiliki buku baru tentang sejarah demokrasi.
Jika yang baru adalah sejarahnya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku tentang sejarah-demokrasi yang baru.
Jika yang baru adalah demokrasinya, ditulis sbb.: Saya telah memiliki buku sejarah tentang demokrasi yang baru.
Untuk kalimat 3:
Jika yang dimaksud ada dua kali sumbangan, ditulis sbb.: Sumbangan yang kedua sekolah itu telah kami terima.
Jika yang maksud ada dua sekolah yang menyumbang, ditulis sbb.: Sumbangan kedua-sekolah itu telah kami terima.
Kalimat Ambigu adalah kalimat yang memiliki makna lebih dari satu atau bermakna ganda. Hal ini dikarenakan struktur kalimatnya maupun penggunaan katanya yang memiliki makna ganda dalam pengartiannya.Ambigu berasal dari kata 'ambigous' yang berarti bermakna lebih satu. Makna ambigu dapat terjadi pada frase, klausa, atau kalimat. Perhatikan kalimat berikut ini :
Orang mati dilompati kucing hidup.